Tuesday, 3 January 2017

Kalisuci Cave Tubing 2015

Apa bedanya body rafting dan rafting? Sepengetahuanku perbedaannya ada di kapal yang kita pakai, kalo body rafting pakai ban. Satu ban dipakai satu orang. Kalo rafting lebih seperti arung jeram, menggunakan perahu karet yang diisi 6-7 orang.

Ada objek wisata menarik di pelosok Gunung Kidul, tepatnya Desa Semanu, yaitu Kalisuci Cave Tubing. Di tempat ini kita bisa susur goa dan sungai menggunakan ban. Tentunya dengan didampingi guide. Biaya untuk satu orang adalah Rp 75.000/orang sudah termasuk helm, life jacket, pelindung lutut dan siku, ban, guide, dan teh panas.

Aku dan rombongan datang di waktu dan cuaca yang tepat, yaitu h-1 lebaran dengan cuaca cerah. Dari basecamp kami masih harus berjalan kurang lebih 15 menit menuruni anak tangga untuk mencapai start point susur sungai Kalisuci.

Kalo waktu dan cuaca nggak tepat, yang didapatkan adalah rame dan airnya cokelat. Beruntungnya kami, hari itu sepi dan airnya ijoo.. Sambil nunggu yang lain sampai bawah, curi start dulu nih pemanasan basah-basahan dengan nyemplung dan tak lupa foto-foto. Life jacket wajib hukumnya untuk selalu dipakai, walaupun kita bisa berenang, karena kita nggak tau di bawah air yang tenang dibawahnya ada arus atau tidak.




Susur goa dimulai dengan... loncat indah dari ketinggian 15 meter ke sungai yang cukup dalam. Tentu saja aku memilih mlipir turun jalan kaki. Ahahaha

si Bebeb berani dong terjun bebas


Setelah jalan kurang lebih 45 menit, kita akan sampai di spot yang batunya gede-gede dan biasanya buat foto-foto. Kalau menghendaki, biasanya guide akan mengajak bermain game di spot ini. Tapi kami nggak mau. hehehe


Perjalanan susur goa  selesai dalam 1 sampai 1,5 jam. Jalurnya terbilang pendek tapi seru dan capek juga. Di akhir jalur tempatnya cukup lebar dan dalam untuk berenang-renang dulu. Karena tadi berangkat dimulai dengan turun tangga, pulangnya naik tangga curam banget yang setengah mati capeknya. Hahaha.

Oya, hati-hati sama guide yang suka iseng, kalo medan memungkinkan dan ada kesempatan, siap-siap ban kamu dijungkir balik sampai kamu nyebur. Hahai

Waisak Candi Borobudur 2015

Datang ke perayaan ini memang sudah direncanakan. Pagi sampai sore rafting di sungai elo, malamnya ikut merayakan Waisak di Candi Borobudur.

Konon berdasarkan cerita dan foto-foto di socmed, perayaan Waisak di Candi Borobudur terbilang cukup keren karena ada penerbangan ribuan lampion. Sejak sore jalanan ke arah candi Borobudur sudah ramai, lepas magrib aku dan rombongan ikut menuju pelataran Candi Borobudur, eh ketemu Jokowi! hehehe

Belajar dari pengalaman tahun 2014 dimana terjadi insiden terganggunya perjalanan ibadah teman-teman yang merayakan Waisak di Candi Borobudur, panitia penyelenggaraan acara sudah mempersiapkannya dengan amat sangat matang. Semua jalur diatur, yang mau masuk ke Candi dibatasi, harus memiliki tiket (ga tau dapetnya dimana). Masyarakat umum hanya boleh sampai pelataran bawah Candi Borobudur, termasuk aku dan rombongan. Kami pun menunggu dengan sabar dan tahu diri karena ini ibadah, bukan tempatnya untuk awur-awuran.



lautan manusia, ini baru sebagian kecil...
Cukup lama kami menunggu hingga ribuan lampion mulai diterbangkan. Serangkaian acara ibadah dilaksanakan dengan cukup khusuk. Penonton umum juga kooperatif dengan tidak membuat keributan yang berarti. Walaupun ramai dan banyak tanaman di taman yang rusak, acara malam itu terbilang terkondisikan dan lancar.

Tiba saatnya penerbangan lampion, dan.............. bukan cukup keren lagi sih, tapi keren banget!!! so magical, sampai rasanya mau nangis waktu memandangi ribuan lampion mengangkasa. Ini nggak hiperbola atau lebay sumpah.




This is it...
video 

video

Kalo mau ikutan lihat di tahun-tahun berikutnya, cukup lihat aja yah. Behave di tempat ibadah :)

Rafting Sungai Elo 2015-2016

Dua pengalaman yang aku satukan dalam satu judul. Pertama kali rafting bareng teman-teman, kedua kali bareng keluarga.

Kalau kamu jalan-jalan atau kebetulan lewat jalan Jogja-Magelang sekitaran Candi Borobudur, pasti bakal melihat baliho atau tanda yang menawarkan pengalaman untuk wisata arung jeram di Sungai Elo. Harganya pun bervariasi, tergantung dimana kamu ambil paketannya.

Pengalaman pertama aku ikut paket dari Resto Limasan seharga Rp 75.000/orang minimal 6 orang untuk satu kapal karet. Pengalaman kedua lupa dari resto apaan, tapi harganya sedikit lebih mahal yaitu Rp 750.000 per kapal (6 orang) atau Rp 125.000/orang.
*) harga tersebut berlaku untuk tahun 2015-2016 ya!

Apa yang membedakan dari dua paket ini? Menurutku sih menu makanan dan pelayanannya.
Harga paket tersebut kamu sudah mendapatkan:
  1. angkot antar jemput start and end point
  2. helm, life jacket, dayung dan tentunya kapal
  3. snack dan es kelapa muda ditengah perjalanan arung jeram
  4. teh panas dan makan berat setelah selesai arung jeram
  5. kamar mandi
Nggak include dokumentasi?? sayangnya enggak hehe..
Untungnya aku bawa action cam dan hape yang dimasukkan ke waterproof case yang bisa dikalungkan di leher. Action cam langsung dipasang di tongsisnya yang ada tali untuk pergelangan tangan. Jadi tangan free hanya pegang dayung.

Setelah ganti baju dengan baju untuk basah-basahan, rombongan akan diangkut ke start point arung jeram. Kemudian akan diadakan briefing sebelum memulai pengarungan. Awalnya deg-degan, tapi aselikkk seru banget!!!

Nggak usah takut kalo nggak bisa berenang, karena itulah fungsinya life jacket wajib dipakai, biar kalo diisengin nahkoda atau sesama anggota tim tetap bisa mengapung dan ketawa ketiwi. hahai

Foto lainnya nyusul yak!

Merbabu via Wekas (lagi) 2015

Merbabu untuk kedua kalinya. Kali ini rame-rame serombongan hampir 30 orang yang dibagi menjadi beberapa kelompok. Lagi-lagi tujuan utamanya bukan puncak, tapi pos 2 Wekas. Ehehe
Teman kami sedang memulai usaha open trip wisata di Jogja gitu, salah satu destinasinya adalah Merbabu. Tanpa babibu, aku dan (as always) Bebeb ikutan trip ini. Yang bikin enak adalah aku cm bawa daypack 5lt, Bebeb bawa daypack 30lt. Terus keperluan lainnya gimana? Udah dibawain sama tim open trip AHAHAHAHAH bahagia banget yak.

BERANGKAT
Berangkat dari Jogja jam 20.00 menuju jalur pendakian Wekas. Sampai di Wekas kami bobok-cantik dulu di basecamp. Berbeda dengan Merbabu sebelumnya, sekarang pendakian dimulai pagi hari, jadi pemandangan kanan kiri bisa kami nikmati. Sampai pos 2 Wekas kira-kira tengah hari dan suasana sudah sangat ramai layaknya bumi perkemahan pramuka.


negri diatas awan




sempat berkabut di pos 1


semburat sunset wekas




PULANG
Eitttsss jangan pulang dulu, pulangnya masih sorenya kok. Setelah bermalam satu malam, paginya aku tetep aja males bangun pagi mengejar sunrise. haha. Jadilah hanya berkeliling dan mengabadikan pemandangan disekitar pos 2.



sindoro - sumbing

merapi





Kira-kira jam 3 sore kami mulai kembali turun ke basecamp. Bonusnya kalo turun Merbabu lewat jalur Wekas jam segitu adalah... SUNSET!! Yakin banget lah jadi salah satu best-sunset-ever dan bakal ga rela turun cepet-cepet, padahal hari sudah menjelang gelap.

taken with iphone 5s with wide lens



Sampai di basecamp langir sudah gelap. Segera kami bersih-bersih, setelah istirahat sebentar, langsung pulang ke Jogja. Walaupun rutenya sama, tapi pasti ada cerita berbeda disetiap perjalanan :)

Friday, 23 September 2016

Wisata Rohani di Bali 2015

Bali lagi Bali lagi.
Semacam kemakan omongan sendiri dulu pernah ngatain temen "apa asiknya Bali sih?". Eh, sekarang ketagihan bener kesini. Haha. Harusnya ngatain "apa asiknya London sih?" biar bisa ke London terus. Aminn!

Ok, kali ini jalan ke Bali dalam rangka diajak jalan-jalan sama keluarganya Mas Bebeb. Tujuannya mana? yang jelas bukan sepanjang jalan keramaian Legian, karena tujuan utamanya adalah kondangan di Singaraja dan napak tilas Eyangnya Oka yang 50th lalu pernah tinggal lama di Pulau Dewata ini.

DAY 1
Tujuan pertama adalah Gereja Palasari. Untuk sampai di Palasari perlu perjalanan 3-4 jam dari Kuta dengan mobil. Istimewanya Gereja Palasari adalah terletak jauh dari pusat kota Bali dan arsitekturnya super keren! Konon arsiteknya adalah Romo-Romo dari Belanda yang pernah bertugas di Palasari. Gereja Palasari adalah salah satu destinasi wajib umat Katolik kalau berziarah di Bali.




Di belakang Gereja ada biara. Di dekatnya ada taman doa dan makam untuk Romo. Setelah menyempatkan doa sebentar, kami keliling-keliling memuaskan Eyangnya Oka mengenang masa mudanya dulu tinggal disini.

Sebelum menjelang malam, kami sudah melanjutkan perjalanan ke Singaraja lewat Pelabuhan Gilimanuk. Sengaja muter demi mampir ke Rumah Makan Ayam Betutu yang katanya paling original seantero Bali.

DAY 2
Pagi hari kami kondangan. Setelah itu cus pulang ke Denpasar tapi mampir dulu ke Danau Beratan/ Danau Bedugul. Istimewanya danau ini adalah punya pura yang gambarnya ada di duit 50rb biru. Haha. Harga tiket masuknya berapa sudah lupa :D sayangnya waktu disana pas banget lagi hujan. Jadi nggak bisa naik kapal untuk muterin danaunya.

DAY 3
Pagi hari sempatkan diri ke gereja dulu di Katedral Denpasar. Ini gereja katolik ke dua di Bali yang arsitekturnya bikin aku melongo. Cakeppp banget walaupun sudah merupakan arsitektur modern.


Kurang sah kayaknya kalau ke Bali nggak main air di laut. Aku dan Oka akhirnya nyewa motor sendiri dan berpencar mencari pantai terdekat di sekitaran Bali selatan. Kembalilah kami ke Blue Point. Dulu sempet kesini tapi nggak renang, sekarang dipuas-puasin deh berenangnya.





Cost-nya? Gratesss! :D